t;

Senin, 18 Maret 2013

KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


1.PENGERTIAN
PERTUMBUHANà Bertambah jml & besarnya sel di seluruh bagian tubuh y/ scr kuantitatif dpt diukur.
PERKEMBANGANà Bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yg dpt dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar 
                               (whalley & wong,2000)
2.POLA – POLA TUMBUH KEMBANG
    Pola pertumbuhan fisik yang terarah
    Pola perkembangan dari umum kekhusus
    Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
    Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan
3. Faktor –faktor yg mempengaruhi  tumbang
    Faktor herediter
    Faktor lingkungan:
    a. Lingkungan pranatal
    b. Lingkungan post natal:
        - Budaya lingkungan
        - Status sosial ekonomi
        - Nutrisi
        - Iklim/cuaca
        - olahraga/latihan fisik
        - Posisi anak dlm klg
        - Status kesehatan
    c. Faktor Hormonal
4. TAHAP PENCAPAIAN TUMBANG ANAK
    Tumbang Masa Pranatal
    a. Fase embrio
        Pertumbuhan dimulai pd 8 mg     pertama
        Mg ke 2 terjadi pembelahan sel
        Mg ke3 terbentuk lap mesoderm
        Denyut jantung janin berdenyut usia 4 mg
    b. Fase fetus
        Terjadi antara mg ke 12- 40
        Peningkatan fungsi organ: tambah PB & BB
       
Tumbang Post natal
    Masa Neonatus( 0- 28 Hari)
    Masa bayi(28 hari – 1 tahun)
    Masa Anak ( 1 – 2 tahun)
    Masa prasekolah
    Masa sekolah
    Masa remaja
    Masa neonatal (0 – 28 hari)

Terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ–organ lainnya.
Masa bayi

Masa bayi dibagi menjadi dua bagian, yaitu;
masa bayi dini (1 – 12 bulan), pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan berlangsung secara kontinyu terutama meningkatnya fungsi sistem saraf.
Dan masa bayi akhir (1 – 2 tahun ), kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik dan fungsi ekskresi.
Masa pra sekolah (2 – 6 tahun)

Pada saat ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil, terjadi perkembangan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya keterampilan dan prose berpikir.
Masa sekolah (wanita : 6 – 10 tahun, laki–laki : 8 – 12 tahun)
Masa sekolah atau masa prapubertas, terjadi pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan dan intelektual makin berkembang, senang bermain berkelompok dengan jenis kelamin yang sama.
Masa adolesence ( wanita : 10 – 18 tahun, laki–laki : 12 – 20 tahun)
Masa adolesnce atau masa remaja, pada anak wanita 2 tahun lebih cepat memasuki masa adolesence dibanding dengan anak laki–laki. Masa ini merupakan masa transisi dari periode anak ke dewasa. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan yang sangat pesat yang disebut adolescent growth spurt. Juga pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan pesat dari alat kelamin dan timbulnya tanda–tanda kelamin sekunder.
Ciri – Ciri Tumbuh Kembang
Dari setiap tahapan tumbuh kembang terdapat ciri–ciri khas yang masing–masing masa mempunyai perbedaan dalam anatomi, fisiologi, biokimia dan karakternya.

Ciri pertumbuhan yaitu sebagai berikut :
1. perubahan ukuran
2. perubahan proporsi
3. hilangnya ciri–ciri lama
4. timbulnya ciri–ciri baru
Ciri – Ciri Perkembangan yaitu sebagai berikut :
1. perkembangan melibatkan perubahan
2. perkembangan awal menentukan petumbuhan      selanjutnya
3. perkembangan mempunyai pola yang tetap
4. perkembangan memiliki tahap yang berurutan
5. perkembangan berlangsung dalam kecepatan     yang berbeda–beda.
6. perkembangan berkorelasi dengan  pertumbuhan
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Sampai Usia Lanjut
Pertumbuhan dan Perkembangan Fisis
Panjang Badan
Rumus, PB = 80 + 5n Cm (n = jumlah umur dalam tahun)
Umur 1 tahun = 1 ½ x panjang lahir
Umur 4 tahun = 2 x panjang lahir
Umur 6 tahun = 1 ½ x panjang umur 1 tahun
Umur 13 tahun = 3 x panjang lahir
Dewasa = 2 x panjang umur 2 tahun
Berat Badan

Rumus, BB = 8 + 2n Kg (n = jumlah umur dalam tahun)
Umur 1 tahun = 3 x berat badan lahir
Umur 2 ½ tahun = 4 x berat badan lahir
Umur 6 tahun = 2 x berat badan umur 1 tahun
Perkembangan Seksualitas
Infant (0 – 18 bulan)
Ciri :
1.Butuh kasih sayang dan stimulasi
2.Anak laki–laki; ereksi, anak perempuan;      potensi orgasmic
3.Secara perlahan dapat membedakan     dirinya dengan orang lain
4.Mendapat kepuasan dari sentuhan genital
5.Berpakaian sesuai gender
Todler (1 – 3 tahun)
Ciri :
1.Mulai dapat mengontrol BAB & BAK
2.Senang dengan genitalnya
3.Mampu mengidentifikasi jenis kelamin
4.Mengembangkan kata–kata sehubungan dengan anatomi.
Pra sekolah (4 – 6 tahun)
Ciri :
1.Seksualitas mulai di internalized dan     memilih teman
2.Bermain dan berpakaian sesuai     gender
3.Memperhatikan bagian–bagian     tubuhnya dan teman bermain
4. Masturbasi.
Usia sekolah (6 – 10 tahun)

1. Dekat dengan orang tua yang beda kelamin
2. Cenderung mempunyai teman sesama  gender
3.Keingintahuan tentang sex dan sharing  tentang ketakutan–ketakutannya
4.Meningkat kesadaran dirinya.
Pre adolescence (10 – 13 tahun)

Ciri :
1.Timbul ciri–ciri pubertas
2.Menstruasi
3.Pembatasan–pembatasan prilaku.
Adolescence (13 – 19 tahun)
Ciri :
1.Mulai berhubungan dengan yang beda     jenis kelamin
2.Berfantasi seksual
3. Masturbasi
4.Melakukan aktifitas seksual
5.Wanita mulai memperhatikan  penampilan
6,Laki–laki; kompetensi
7.Meningkat insiden kehamilan.
Dewasa muda (20 – 35 tahun)
Ciri :
1.Sex premarital sering terjadi
2.Melakukan perkawinan
3.Pengetahuan tentang seksual diperlukan     untuk meningkatkan kesenangan
4.Mencoba bermacam teknik dan posisi
5.Menghargai pendapat/nilai–nilai orang lain.
Dewasa Tua (35 – 55 tahun)
Ciri :
1.Terjadi perubahan tubuh karena menopause
2.Pengalaman sex lebih difokuskan pada kualitas  dari pada kuantitas
3.Sering terjadi perceraian
4.Anak–anak sudah besar sehingga lebih terfokus     pada kehidupan sexnya
5.Tidak takut hamil, lebih dapat menikmati     kehidupan sexnya.
Usia lanjut/elderly (> 55 tahun)
Ciri :
1.Orgasme menjadi lebih pendek, 2.intensitasnya berkurang
3.Sekresi vagina menurun, periode resolusi     pada laki–laki lebih panjang
4.Takut kehilangan kemampuan seksualitas
5.Merasakan apakah aktifitas seksual harus     berhenti karena proses ketuaan.
Pertumbuhan dan Perkembangan Intelektual (menurut Piaget)
a.0 – 2 tahun (sensori – motorik) :
1.tingkah laku non-verbal
2.konsep ruang dan waktu masih     rendah/terbatas
3.koordinasi otot motorik kurang
4.melakukan kegiatan sederhana
5.persepsi melalui berbagai alat indera
6.pemahaman sebab dan akibat belum jelas.
3 – 7 tahun (preoperasional; akal dan konsep/intuisi) :
1.egosentris
2.mampu menguraikan simbol dan konsep
3.banyak bertanya
4.eksperimen bahasa
5.tindakan dari pengalaman
6.menganggap benda sebagai makhluk hidup.
7 – 11/12 tahun (operasional konkrit) :
1.mulai mampu mengatasi masalah faktual
2.memahami hubungan dan sebab/akibat
3.mulai mapu membedakan
4.tidak egois
5.mulai dapat memahami alasan dari orang     lain
6.mampu menalar.
11 – 15/16 tahun (operasional formal) :
1.hidup dalam saat ini dan juga menghayal
2.memperhatikan berbagai kemungkinan
3.mulai dapat memberi alasan–alasan ilmiah
4.menggunakan cara berpikir logika formal     (memberi alasan)
5.sulit memodifikasi antara harapan ideal dengan     kenyataan praktis
6.menyadari benda mati bukan makhluk hidup
7.dapat lebih objektif dalam berfikir
8.lebih mampu melihat visi/cara pandang dari  orang lain.
Pertumbuhan dan Perkembangan Psikososial
menurut sigmund freud, yaitu sebagai berikut :
1.fase oral
pada fase ini anak mendapat epuasan/kenikmatan dari berbagai pengalaman sekitar mulut seperti menghisap, menelan, memainkan bibir dan makan.
Dasar perkembangan mental yang sehat tergantung dari hubungan anak pada fase ini.
Bila ibu berhasil memuaskan kebutuhan dasar anak maka anak akan merasa aman dan dapat mantap ke fase berikutnya.
Bila terdapat hambatan atau gangguan pada fase ini maka anak akan menjadi ketergantungan dan menolak mandiri.
2.fase anal
pada fase ini sifat ke”aku”an menonjol
mulai belajar kenal dengan tubuhnya sendiri dan mendapat kepuasan dengan autoerotiknya.
Tugas utama anak pada fase ini adalah “toilet training”
Merasa nikmat pada saat menahan maupun mengeluarkan tinja, rasa kepuasan bersifat egosentrik.
Sisa konflik pada fase ini kepribadian anak akan menjadi berpandangan sempit, introvert, pelit (anal retentif). Bersifat ekstrovert, impulsif, tidak rapih, dan kurang pengendalian diri (anal ekchulsif).
3.fase falik/oedipal
anak mulai melakukan rangsangan erotik meraba–raba genitalia
anak mulai bisa merasakan dorongan seksual kemudian ditujukan pada orang tua lawan jenis, perasaan ini membuat dorongan untuk bersaing dengan orang tua sejenis atau merebut perhatian orang tua yang lain.
Perasaan seksual yang negatif menyebabkan anak menjauhi orang tua dengan jenis kelamin berbeda dan mulai dekat dengan orang tua sejenis. Mulai terjadi proses identifikasi seksual
4.fase laten;

merupakan periode integrasi, bercirikan anak harus berhadapan dengan berbagai tuntutan sosial misalnya hubungan kelompok, pelajaran sekolah, konsep moral dan etik serta hubungan dengan dunia dewasa.
5. fase genital,
 pada fase ini anak diharapkan bisa bereaksi sebagai orang dewasa, sebab pada fase ini anak masih masa transisi.
Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan psikososial menurut Erik Erikson, memiliki 2 komponen yaitu sebagai berikut :

1.komponen yang baik (yang diharapkan)
2.komponen yang tidak baik (yang tidak  diharapkan)
Adapun tahapannya sebagai berikut :
a.Percaya dan tidak percaya (sejak lahir – 1 tahun)
- Komponen awal yang sangat penting untuk berkembang adalah rasa percaya yang     mendasari     kehidupan
- Rasa aman dan rasa percaya pada lingkungan merupakan kebutuhan bayi dan perantara     yang     tepat antara bayi dengan lingkungan adalah ibu
- Hubungan antara ibu dan anak yang harmonis yaitu melalui pemenuhan kebutuhan fisik,     psikologis,dan sosial yang merupakan pengalaman     dasar rasa percaya bagi anak.
- Rasa tidak percaya timbul bila kebutuhan dasar  tidak  terpenuhi secara adekuat.
b.otonomi dan rasa malu serta ragu (1 – 3 tahun)
- pada saat ini alat gerak dan rasa telah matang  dan  ada percaya terhadap ibu dan     lingkungan
- perkembangan otonomi selama periode ini  berfokus  kepada kemampuan anak  untuk mengontrol  tubuhnya dengan  lingkungannya
- menggunakan kemapauan mentalnya untuk  menolak dan  memberi atau mengambil     keputusan
- bila anak mendapat suport yang kurang dari  orang tua dan lingkungan,anak  merasa tidak mampu  mengatasi  tindakan yang diambilnya maka akan  timbul perasaan negatif yaitu rasa malu  dan ragu.b.otonomi dan rasa malu serta ragu (1 – 3 tahun)
- pada saat ini alat gerak dan rasa telah matang  dan  ada percaya terhadap ibu dan     lingkungan
- perkembangan otonomi selama periode ini  berfokus  kepada kemampuan anak  untuk mengontrol  tubuhnya dengan  lingkungannya
- menggunakan kemapauan mentalnya untuk  menolak dan  memberi atau mengambil     keputusan
- bila anak mendapat suport yang kurang dari  orang tua  dan lingkungan,anak  merasa tidak mampu  mengatasi  tindakan yang diambilnya maka akan  timbul perasaan negatif yaitu rasa malu  dan ragu.
c. inisiatif dan rasa bersalah (3 – 6 tahun)
- pada tahap ini anak belajar mengendalikan diri dan  manipulasi lingkungan serta timbul rasa inisiatif
- anak mulai menuntut untuk melakukan tugas  tertentu
- anak memperluas lingkup pergaulannya; menjadi aktif  diluar rumah dan kemampuan berbahasa semakin     meningkat
- hubungan dengan saudara dan teman sebaya cenderung     untuk mau menang sendiri
- pada fase ini kadang–kadang anak tidak dapat mencapai     tujuan atau menyelesaikan kegiatannya karena  keterbatasannya. Tetapi bila tuntutan lingkungan terlalu  tinggi atau berlebih maka anak akan merasa  kegiatan/aktifitasnya buruk akhirnya timbul rasa kecewa     dan merasa bersalah.
d.industri dan inferioritas (6 – 12 tahun)
- pada tahap ini anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas/perbuatan yang menghasilkan     sesuatu
- anak siap untuk meninggalkan rumah/orang tua dalam  waktu terbatas (untuk sekolah) melalui proses  pendidikan, anak belajar untuk bersaing (sifat  kompetitif) dan sifat koperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan, belajar  peraturan-peraturan yang berlaku
- bila anak tidak dapat memenuhi keinginan sesuatu  standar atau terlalu banyak tuntutan akan dapat     timbul masalah seperti anak merasa tidak mampu,     malas, rasa rendah diri, dan takut kompetisi.
e.identity & role confusion (12 – 18 tahun)
- pada tahap ini terjadi perubahan fisik dan jiwa. Anak tampak seperti dewasa tetapi secara     psikososial ia belum punya hak seperti orang  dewasa
- pada tahap ini merupakan masa standarisasi diri  yaitu anak mencari identitas
- apabila pada masa ini anak tidak mampu     mengatasi konflik maka anak akan bingung d    alam mencari identitas diri, merasa asing  dan tidak berdaya, anak kehilangan     kepercayaan pada dirinya dan akhirnya timbul kebingungan untuk mengidentifikasi     peran dirinya.

KEBUTUHAN DASAR TUMBANG
1.    ASAH / Kebutuhan fisik-biomedis, meliputi: pangan, perawatan kesehatan dasar, papan, hiegene perorangan dan sanitasi lingkungan, sadang, kesegaran jasmani, rekreasi.
2.    ASIH / Kebutuhan kasih sayang,  ayah dan ibu àbonding àbasic trust.
     Kasih sayang orang tua, rasa aman, harga diri, dukungan & dorongan, mandiri, rasa memiliki, kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan dan pengalaman.
3. ASUH/ Stimulasi mental.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar