t;

Jumat, 22 Juni 2012

Contoh LP askep(Thypoid)


 
Pendahuluan
Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985).
Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi dengan masa tunas 6 – 14 hari. Sedangkan typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan enteritis akut.
  1. Latar  Belakang
Keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu praktek keperawatan merupakan tindakan yang mandiri melalui kerja sama tenaga kesehatan lainnya dalam bentuk kerja sama dengan pasien /keluarga sesuai lingkup peran dan fungsi seorang perawat. Perawat sebagai bagian dari tim kesehatan juga memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam penanganan kasus yang dialami klien, salah satu diantara yang menjadi bahan studi penulis yaitu peran perawat dalam upaya penanganan Thypus Abdominalis


·          Tujuan Penulisan
·         Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran nyata tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Thypus Abdominalis
preventif, kuratif dan rehabilitatif guna menekan jumlah penderita penyakit Tgypus Abdominalis, dan meningkatkan derajat kesehatan. Oleh karena itu, mendorong penulis untuk memilih penyakit Thypus Abdominalis

·         Tujuan Khusus
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian keperawatan pada pasien dengan Thypus Abdominalis
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan diagnosa keperawatan pasien dengan Thypus Abdominalis
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam menyusun rencana keperawatan dengan Thypus Abdominalis
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan implementasi terhadap pasien dengan Thypus Abdominalis
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mengevaluasi asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pernapasan Thypus Abdominalis
·         Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pernapasan Thypus Abdominalis







BAB II
                                                            LANDASAN TEORI
  1. KONSEP TYPUS

  1. DEFINISI (PENGERTIAN)
Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985).
Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi dengan masa tunas 6 – 14 hari. Sedangkan typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan enteritis akut.

  1. ETIOLOGI
Penyabab penyakit ini adalah Salmonella typhi, Salmonella para typhii A, dan Salmonella paratyphiiB. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen yaitu antigen O, antigen H, dan antigen VI. Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.
Kuman tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.
  1. E.    PATOFISIOLOGI
Infeksi masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil di usus halus melalui pembuluh limfe masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limfa sehingga membesar dan disertai nyeri. Basil masuk kembali ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus à menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. Jika kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk zat kekebalan atau antibodi. Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati dan penderita berangsur-angsur sembuh.\




SKEMA POTOFISIOLAGIS TYPHUS ABDOMINALIS




















  1. D.   TANDA DAN GEJALA
Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.
Gangguan gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan, bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu badan (Junadi, 1982).

  1. PENATALAKSANAAN
Typus
1.    Pengobatan
a.    Kloramfenikol
b.    Kotrimoksasol
c.    Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol, diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.
2.    Perawatan
a.    Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
b.    Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.
3.    Diet
a.    Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
b.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.

  1. G.   PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menegakkan diagnosa penyakit typhus abdominalis perlu dilakukan pemeriksaan yaitu pemeriksaan laboratorium:
1.    Darah tepi
-       Terdapat gambaran leukopenia
-       limfositosis relatif dan
-       ameosinofila pada permulaan sakit
-       mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan
hasil pemeriksaan ini berguna untuk membantu menentukan penyakit dengan cepat.
2.    Pemeriksaan Widal
Pemeriksaan positif apabila terjadi reaksi aglutinasi. Apabila titer lebih dari 1/80, 1/ 160, dst, semakin kecil titrasi menunjukkan semaki berat penyakitnya.
3.    Darah untuk kultur (biakan empedu)
      
B.  KONSEP  ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Pengkajian
a.    Identitas
b.    Keluhan utama
Perasaan tidak enak badan, pusing, nyeri kepala, lesu dan kurang bersemangat, nafsu makan berkurang (terutama selama masa inkubasi).
c.    Data Fokus
Mata    : konjungtiva anemis
Mulut   : lidah khas (selaput putih kotor, ujung dan tepi kemerahan), nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah.
Hidung : kadang terjadi epistaksis
Abdomen: perut kembung (meteorismus), hepatomegali, splenomegali, nyeri tekan.
Sirkulasi: bradikardi, gangguan kesadaran
Kulit     : bintik-bintik kemerahan pada punggung dan ekstremitas.
d.    Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium:
§  SGOT SGPT meningkat, leukopenia, leuukositosis relatif pada fase akut; mungkin terdapat anemia dan trombositopenia.
§  Uji serologis asidal (titer O, H)
§  Biakan kuman (darah, feses, urin, empedu)

2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Hipertermi b.d proses inflamasi
Tujuan:
  • Suhu tubuh klien kembali normal
  • Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan
Intervensi:
  • Identifikasi penyebab atau faktor yang dapat menimbulkan hipertermi
  • Observasi cairan masuk dan keluar, hitung keseimbangan cairan
  • Beri cairan sesuai kebutuhan bila tidak ada kontraindikasi
  • Beri kompres air hangat
  • Anjurkan klien untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan saat suhu tubuh naik
  • Kolaborasi: pemberian antipiretik, pemberian antibiotik, pemeriksaan penunjang=hasil laboratorium.
Evaluasi:
  • Suhu tubuh klien kembali normal
  • Frekuensi pernafasan kembali normal
  • Kulit klien tidak teraba panas
  • Klien dapat beraktivitas

b.    Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat
Tujuan:
  • Asupan nutrisi klien tercukupi
  • Peningkatan nafsu makan klien
Intervensi:
  • Kaji pola makan klien
  • Observasi mual dan muntah
  • Identifikasi faktor pencetus mual, muntah, dan nyeri abdomen
  • Kaji makanan yang disukai dan tidak disukai klien
  • Sajikaan makanan dalam kedaan hangat dan menarik
  • Beri posisi semi fowler saat makan
  • Bantu klien untuk makan, catat masukan makanan.
Evaluasi:
  • Klien mengatakan sudah tidak mual dan muntah
  • Nafsu makan meningkat

c.    Nyeri akut b.d agen cidera biologis
Tujuan:
  • Nyeri klien berkurang
  • Klien merasa nyaman
Intervensi:
  • Kaji karakteristik nyeri dan skala nyeri
  • Kaji faktor yang dapat menurunkan/menaikkan nyeri
  • Ajarkan dan bantu klien melakukan relaksasi dan distraksi
  • Beri posisi yang nyaman
  • Ciptakan lingkungan yang tenang
Evaluasi
  • Klien mengatakan nyeri abdomen berkurang
  • Klien mengatakan sudah merasa nyaman.

1 komentar: